Oleh: Rahmawati Azi (Koordinator Lajnah Wathonah JATMAN SULTRA, Presidium FORHATI SULTRA)
Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Namun di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat, peringatan ini sering kali berhenti sebatas seremoni tahunan: upacara formal, slogan nasionalisme, atau unggahan singkat di media sosial yang cepat tenggelam di linimasa. Padahal, Hari Kebangkitan Nasional menyimpan makna yang jauh lebih sublim daripada sekadar penanda sejarah lahirnya organisasi modern seperti Budi Utomo. Momentum ini merekam titik kesadaran penting ketika bangsa Indonesia mulai memahami bahwa keterbelakangan, penjajahan, dan ketimpangan hanya dapat dilawan melalui persatuan, pendidikan, dan kesadaran kolektif.
Kebangkitan pada awal abad ke-20 lahir dari gerakan intelektual. Para pelajar, guru, dokter, dan kaum terdidik mulai menyadari bahwa sebuah bangsa tidak mungkin berdiri kuat jika masyarakatnya tercerai-berai dan bergantung pada kekuatan asing. Pendidikan kemudian menjadi arena perlawanan yang paling penting. Pengetahuan tidak hanya dipahami sebagai sarana memperoleh pekerjaan, tetapi juga sebagai jalan menuju martabat dan kemerdekaan berpikir. Dari ruang-ruang pendidikan itulah lahir kesadaran baru tentang identitas kebangsaan dan cita-cita masa depan bersama.
Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak dimaknai hanya sebagai nostalgia sejarah. Peringatan ini perlu menjadi ruang refleksi: apakah Indonesia hari ini masih memiliki semangat kolektif untuk tumbuh bersama? Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika bangsa ini berada di tengah perubahan global yang begitu cepat, terutama dalam bidang teknologi, ekonomi, dan budaya digital.
Di satu sisi, Indonesia memang menunjukkan banyak perkembangan yang patut disyukuri. Infrastruktur terus berkembang, akses teknologi semakin luas, dan generasi muda memiliki kesempatan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Anak-anak muda Indonesia kini mampu bersaing dalam dunia akademik internasional, industri kreatif, ekonomi digital, hingga sektor teknologi global. Berbagai inovasi lahir dari tangan generasi muda yang tidak lagi hanya menjadi konsumen perubahan, tetapi juga pencipta gagasan dan gerakan sosial baru.
Kesadaran publik terhadap isu demokrasi, lingkungan, pendidikan, dan kesetaraan juga semakin berkembang. Banyak anak muda mulai aktif menyuarakan kepedulian sosial melalui komunitas, media digital, maupun gerakan kreatif yang lebih inklusif. Hal ini menunjukkan bahwa semangat kebangkitan sebenarnya masih hidup, meskipun hadir dalam bentuk yang berbeda dari masa lalu.
Namun di balik berbagai kemajuan tersebut, Indonesia juga menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Kita hidup di era post-truth ketika informasi beredar begitu cepat, tetapi kebenaran sering kalah oleh emosi, kepentingan kelompok, dan sensasi digital. Media sosial mempercepat penyebaran opini, tetapi tidak selalu memperluas pemahaman. Akibatnya, ruang dialog publik semakin sempit, sementara masyarakat mudah terpecah oleh polarisasi dan penilaian yang banal.
Dalam bidang pendidikan, ketimpangan akses dan kualitas masih menjadi persoalan yang nyata. Pendidikan sering diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, sementara character bulding, empati, dan kemampuan berpikir kritis justru mulai terpinggirkan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi, tetapi juga matang secara intelektual dan moral. Kebangkitan nasional tidak akan tumbuh dari masyarakat yang kehilangan tradisi berpikir kritis.
Selain itu, generasi muda saat ini juga menghadapi tekanan zaman yang semakin kompleks. Mereka dituntut untuk terus produktif, kompetitif, dan relevan di tengah percepatan dunia digital. Pada saat yang sama, mereka harus berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi, kecemasan sosial, hingga krisis identitas. Karena itu, pembangunan bangsa tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik semata. Indonesia membutuhkan ruang harapan yang lebih manusiawi: pendidikan yang memerdekakan, politik yang beretika, ekonomi yang adil, dan budaya dialog yang sehat.
Masa depan Indonesia sebenarnya sangat terbuka. Bonus demografi, perkembangan teknologi, dan kekayaan budaya merupakan modal besar yang tidak dimiliki semua negara. Namun di tengah teknologisme yang sering memuja percepatan, efisiensi, dan citra digital, kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan sosial. Teknologi memang mampu mempercepat komunikasi dan pembangunan, tetapi tanpa kesadaran moral, ia juga dapat melahirkan individualisme, krisis empati, dan hubungan sosial yang semakin rapuh. Karena itu, modal besar tersebut hanya akan menjadi potensi kosong jika bangsa ini gagal menjaga persatuan, kehilangan empati sosial, dan melupakan pentingnya pendidikan sebagai fondasi peradaban.
Hari Kebangkitan Nasional abad ini mungkin tidak lagi berbentuk perlawanan terhadap kolonialisme fisik. Tantangan kita hari ini hadir dalam bentuk yang berbeda: intoleransi, digital illiteracy, dekadensi moral, dan melemahnya solidaritas sosial. Karena itu, makna “bangkit” di era sekarang adalah kemampuan untuk tetap kritis tanpa kehilangan empati, tetap maju tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya tentang nostalgia masa lalu, tetapi tentang menentukan arah masa depan, sebab sebuah bangsa tidak diukur dari nostalgia kesejarahan saja, melainkan dari seberapa jauh ia mampu belajar dan bertumbuh darinya.(***)