
KENDARI,GAGASSULTRA.COM-Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2025 bagi Majelis Forum Alumni HMI Wati (Forhati) Sulawesi Tenggara (Sultra) begitu besar dalam mengawal proses kehidupan. Untuk itu, dengan mengangkat tema ‘Ibu : Sang Penjaga Bumi’ merawat kehidupan serta merawat masa depan menjadi topik utama dalam Webinar Nasional yang di gelar Forhati Sultra, Jum'at (26/12/2025).
Webinar ini hadir sebagai momentum refleksi dan aksi kolektif untuk menguatkan peran perempuan, khususnya ibu, dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan, keberlanjutan lingkungan, serta masa depan generasi bangsa. Ibu tidak hanya diposisikan sebagai sumber kasih sayang dan pengasuhan, tetapi juga sebagai penjaga nilai sosial, budaya, dan ruang hidup bersama yang lestari.
Acara ini diharapkan menjadi wadah inspiratif untuk membahas peran strategis ibu dalam merawat kehidupan dan pelestarian bumi, sehingga generasi yang lahir dan dibesarkan memiliki kesadaran ekologis dan komitmen kolektif terhadap kelestarian alam.
Webinar menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi antara lain dengan pembicara utama Dr.Zurmailis, MA dosen sastra Indonesia Universitas Andalas dan Dr, Hj Irma Irayanti, M.Pd Dosen IAIN.
DR. Zurmailis mengusung tema “Dua sisi wajah perempuan yang Mencerminkan Kondisi Alam” Sedangkan Dr. Irma mengusung tema “IBu dan Bumi: Dua Kehidupan, Satu Tanggungjawab”. Tak luput menjadi pembahasan adalah, peran ibu dalam pendidikan nilai, serta kontribusi aktif perempuan dalam upaya keberlanjutan lingkungan.
Webibar yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari akademisi, aktivis perempuan, mahasiswa dan umum tersebut dimoderatori oleh Islmiyah Hasari, S.Pd., M.Pd.
Sementara itu, Koordinator Presidium FORHATI Sultra, Rahmawati Azi mengatakan, perempuan dalam perannya sebagai ibu memiliki tanggung jawab ganda, merawat kehidupan keluarga sekaligus menjaga bumi sebagai tempat hidup bersama. Sebagai organisasi alumni perempuan yang aktif dalam pemberdayaan perempuan dan kegiatan sosial, FORHATI Sultra melihat keterkaitan antara peran ibu dan keberlanjutan ekologi sebagai bagian integral dari pembangunan manusia yang beradab dan berkelanjutan.
“Perempuan bukan hanya agen pengasuh keluarga, tetapi juga penjaga ekologi komunitas dan bumi, karena dari peran itulah terbentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan dan nilai-nilai kehidupan yang berkelanjutan,”ungkapnya.
Untuk itu, Uci sapaan akrab Rahmawati mengharapkan, melalui webinar ini, FORHATI Sultra mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kaum perempuan, ibu, pelajar, akademisi, dan pelaku perubahan untuk bersama-sama meneguhkan komitmen dalam merawat kehidupan dan menjaga masa depan bumi demi generasi yang lebih berdaya dan planet yang lebih lestari. (Rin/Red)
Oleh : Rahmawati Azi (Korpres Forhati Sultra)
Menutup tahun 2025, Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak sekadar menghitung waktu yang berlalu, tetapi mengajak untuk merefleksikan posisi kita di alam semesta ini. Rangkaian kegiatan, mulai dari Milad FORHATI, Sekolah Ekofeminisme, hingga Webinar Hari Ibu bertema “Ibu: Sang Penjaga Bumi” menjadi satu kesatuan kesadaran: bahwa perempuan, ibu, dan bumi berada dalam simpul perjuangan yang sama, dirawat atau dilukai tergantung cara manusia memaknai kehidupan.
Milad FORHATI bukan hanya perayaan usia, tetapi momentum meneguhkan kembali jati diri perempuan intelektual yang berpihak pada kehidupan. Di sana, FORHATI menegaskan bahwa keberpihakan pada perempuan tidak pernah terpisah dari keberpihakan pada keadilan sosial, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan.
Kesadaran itu kemudian menapak pada Sekolah Ekofeminisme, ruang belajar yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan keberanian berpikir kritis. Ekofeminisme mengajarkan bahwa krisis ekologis dan ketidakadilan terhadap perempuan berakar pada logika yang sama: eksploitasi, dominasi, dan pengabaian relasi. Dari tanah yang dirusak hingga tubuh perempuan yang dikendalikan, semuanya berangkat dari cara pandang yang memutus hubungan manusia dengan empati dan tanggung jawab, di beberapa kesempatan, saya menyebutnya kolaborasi antara androsentrisme dan kapitalisme.
Dahulu, para ibu berjuang di kongres demi kongres demi kesetaraan di bidang-bidang kehidupan yang vital bagi eksistensi kemanusiaan, sebuah momentum sejarah yang menegaskan peran perempuan bukan hanya dalam ranah domestik, tetapi juga dalam perjuangan sosial, pendidikan, dan kebangsaan. Hari ini, FORHATI memaknai Hari Ibu sebagai penghormatan atas kesadaran, keberanian, dan tanggung jawab perempuan dalam merawat kehidupan.
Dalam konteks inilah, Webinar Hari Ibu “Ibu: Sang Penjaga Bumi” menjadi ruang refleksi kolektif. Ibu tidak lagi dipahami semata sebagai simbol domestik, melainkan sebagai subjek kesadaran ekologis dan moral. Ibu adalah penjaga nilai, penenun etika, dan pewaris kebijaksanaan lintas generasi. Dari rahim kesadaran ibu, diharapkan lahir generasi yang memahami bahwa merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari merawat kemanusiaan itu sendiri.
Di penghujung tahun ini, FORHATI belajar bahwa perubahan besar selalu berawal dari kesadaran yang dirawat secara konsisten, dari ruang-ruang kecil, dari dialog, dari pendidikan, dan dari keberanian untuk berpihak. Tahun boleh berganti, tetapi komitmen untuk menjaga kehidupan tidak boleh surut.
Dengan refleksi ini, FORHATI melangkah ke tahun berikutnya dengan satu keyakinan: selama perempuan dan ibu terus diberi ruang, didengar, dan dikuatkan, maka harapan bagi bumi dan masa depan akan tetap menyala.(***)
KENDARI,GAGASSULTRA.COM – Memasuki masa liburan semester pertama dimanfaatkan Yayasan Zawiyah Baluwu (YZB) Kendari menggelar Program Liburan Edukatif. Program liburan edukatif kali ini memilih tema Pelatihan Menulis untuk Generasi Alpha dan Generasi Z.
Kegiatan ini berlangsung di Sekretariat YZB Kendari di Ranomeeto, Konsel,Senin (22/12/2025) yang diikuti oleh pelajar tingkat SMP hingga SMA.
Pelatihan ini menghadirkan Coach Rahmawati Azi, S.Pd., M.A, Dosen Sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo (UHO) yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Zawiyah Baluwu, sebagai pemateri utama. Diskusi dan sesi pelatihan dipandu oleh Raihan Jundillah, siswa MAN IC Kendari, sebagai moderator.
Acara dipandu oleh Ahmad Faiz Khairul Ilmi, siswa SMA Negeri 4 Kendari, yang juga membagikan testimoni serta pengalaman pribadinya dalam dunia kepenulisan. Kehadirannya memberi motivasi tersendiri bagi peserta untuk berani menulis dan mengekspresikan ide.
Sekretaris Yayasan Zawiyah Baluwu, Rahmaniar Azi, S.Sos., M.Pd, menjelaskan, pelatihan ini dirancang untuk mengenalkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara bijak dalam kegiatan menulis.
“Tujuan pelatihan ini adalah agar anak-anak mampu menggunakan AI sebagai alat bantu dalam menulis, namun ide, gagasan, dan kreativitas tetap sepenuhnya berada di tangan mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, liburan edukatif YZB Kendari adalah program rutin setiap liburan semester. Tujuannya, liburan anak bisa diisi dengan hal-hal yang lebih produktif dalam bentuk eduwisata.
“Ini kali pertama dilaksanakan dalam bentuk pelatihan. Harapannya, makin berjejaring dengan komunitas atau para ahli dibidangnya,”harapnya.
Salah satu peserta, Davina Kayla, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini terasa menyenangkan dan memberi ruang ekspresi.
“Kegiatannya seru karena kita bisa mengekspresikan diri lewat tulisan, lalu dibantu AI supaya lebih rapi. Tapi tetap kita yang mengendalikan AI sesuai dengan yang kita mau,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, YZB Kendari berharap dapat menumbuhkan minat literasi, kreativitas menulis, serta kemampuan berpikir kritis generasi muda, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi di era digital.(Rin/Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM - Turnamen sepak bola usia dini bergengsi, CISC (Chelsea Indonesia Supporter Club) Kendari Cup 1, resmi ditutup, Minggu (21/12/2025). Ajang yang diikuti sebanyak 154 tim dari Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Tengah (Sulteng) ini menobatkan kontingen Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Kabupaten Muna sebagai Juara Umum.
Selama enam hari kompetisi (16–21 Desember), tim-tim SSB asal Muna menunjukkan permainan yang sangat disiplin dan penuh talenta. Puncaknya, mereka berhasil mengamankan podium tertinggi di kategori utama, yang membuat akumulasi poin dan perolehan trofi mereka tak terkejar oleh tim-tim dari daerah lain, sehingga layak menyandang gelar Juara Umum.
SSB Asal Kabupaten Muna tampil dominan dengan berhasil membawa pulang tiga piala dari berbagai kelompok usia. Pada kategori U10, Latowua Tongkuno Muna keluar sebagai juara pertama, disusul Inowa Puriala sebagai juara kedua, dan Labibia A menempati posisi ketiga.
Di kelompok usia U12, Anoa A Kendari meraih juara pertama, Garuda Barometer berada di posisi kedua, sementara Latowua Tongkuno Muna kembali naik podium sebagai juara ketiga.
Sementara itu, pada kategori U14, Latowua Tongkuno Muna kembali menunjukkan kekuatan dengan meraih gelar juara pertama. Posisi kedua ditempati Wesalo Koltim, dan juara ketiga diraih Labibia Kendari.
Laga final U10 berlangsung sengit hingga harus ditentukan melalui adu penalti. Tim Latowua Tongkuno Muna akhirnya memastikan kemenangan dengan skor 5–4 atas Inowa Puriala.Ketegangan serupa juga terjadi pada final U14, di mana Latowua Tongkuno Muna kembali menang lewat adu penalti melawan Wesalo Koltim.
Ketua Panitia CISC Cup 1, Akbar Djufri, menyatakan kekagumannya atas kualitas pemain yang muncul dalam turnamen perdana ini. Turnamen ini diharapkan mampu melahirkan bibit-bibit pesepak bola muda berprestasi serta menjadi wadah pembinaan atlet usia dini di daerah.
"Animo peserta luar biasa, ada 154 tim yang bertanding. Kami melihat bibit-bibit unggul masa depan Sultra disini, terutama tim-tim hebat a yang tampil sangat solid dan sportif," ujarnya.
Kemenangan ini disambut haru oleh para orang tua pemain dan official yang mendampingi. Mereka berharap gelar Juara Umum ini menjadi pemantik semangat bagi pemerintah daerah untuk terus mendukung sarana dan prasarana olahraga.
Panitia pun memberikan apresiasi tinggi atas partisipasi dan kualitas permainan yang ditunjukkan seluruh peserta, khususnya tim dari luar Kota Kendari.
"Alhamdulillah, CISC Cup 1 berjalan sukses dan lancar tanpa ada kendala dan hambatan. Kami sangat bangga melihat talenta-talenta muda ini. Selamat kepada SSB asal Muna yang berhasil membuktikan kualitasnya dan keluar sebagai juara umum," pungkasnya.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan pembinaan atlet usia dini khususnya di setiap Kota Kabupaten.(Rin/Red)
KENDARI,GAGASSULTRA.COM - Musyawarah Cabang (Muscab) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Kota Kendari, Minggu, (21/12/2025) menelorkan,Prof.Najib Husain sebagai Ketua Formatur. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 3 Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo (UHO).
Dalam Muscab tersebut, awalnya mengusulkan tujuh nama calon ketua. Namun dalam perjalanannya forum akhirnya menetapkan Prof. Najib Husain sebagai ketua dan Dr.Sarkina Safiuddin sebagai Sekretaris.
Muscab yang dihadiri puluhan Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) menyambut positif terpilihnya Prof. Najib Husain sebagai ketua untuk memperkuat peran KAGAMA dalam mendukung pembangunan daerah.
Pada kesempatan tersebut, Prof.Najib Husain bertekad menjadikan KAGAMA Kendari sebagai “Rumah Besar KAGAMA yang inklusif”. Konsep ini menempatkan KAGAMA sebagai wadah bersama yang terbuka bagi seluruh alumni UGM, tanpa sekat latar belakang profesi, usia, maupun bidang keahlian.
“KAGAMA harus menjadi rumah bersama, tempat berkolaborasi dan berkontribusi nyata bagi daerah,” ujar Najib dalam sambutannya.
Untuk itu, pihaknya menegaskan, KAGAMA Kota Kendari harus dibangun melalui kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah dan sektor swasta, sehingga tercipta sinergi yang kuat dalam mendukung berbagai program pembangunan.
“Jadi sinergi antara alumni, pemerintah, dan dunia usaha memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan Kendari, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun penguatan sumber daya manusia,”ungkapnya.
Ditambahkan, potensi alumni ini disatukan dan disinergikan, dampaknya akan terasa langsung dalam pembangunan Kota Kendari yang lebih maju dan berdaya saing.
Pelaksanaan Muscab KAGAMA Kota Kendari ini, dirangkaikan dengan peringatan Dies KAGAMA ke-76 yang dilaksanakan secara meriah dan sederhana. (Rin/Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM – Dua terdakwa kasus operasi tangkap tangan (OTT) pengadaan website Inspektorat Kota Baubau, Amrin Abdulah (AA) dan La Ode Muhaimin (LM) dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Kendari, Jum'at (19/12/2025). Kedua terdakwa masing-masing divonis 4 tahun dan 6 bulan penjara serta denda Rp 200 Juta.
Putusan ini lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dimana, terdakwa AA sebelumnya ditutut 8 tahun dan 6 bulan penjara. Sedangkan, terdakwa LM dituntut 5 tahun dan 6 bulan penjara.
Sidang putusan yang digelar di ruang sidang Tipikor PN Kendari tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim Arya Putra Negara Kutawaringin, SH, MH, didampingi hakim anggota Drs. Parsungkunan, SH, MH dan Muhammad Nurjalil, SH, MH.
Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama berupa pemerasan dalam jabatan sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum.
“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Amrin Abdullah dan La Ode Muhaimin dengan pidana penjara masing-masing selama 4 tahun dan 6 bulan serta denda sebesar Rp200 juta, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Arya Putra Negara Kutawaringin saat membacakan amar putusan.
Dalam pertimbangannya, majelis hakim menegaskan, perbuatan para terdakwa dilakukan secara bersama-sama dan bertentangan dengan prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang bersih serta akuntabel. Tindakan tersebut dinilai telah mencederai kepercayaan publik, khususnya dalam proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah daerah.
Usai pembacaan putusan, majelis hakim memberikan waktu kepada Jaksa Penuntut Umum maupun para terdakwa untuk menyatakan sikap atas putusan tersebut. Baik JPU maupun pihak terdakwa diberikan waktu selama 7 hari untuk menyatakan apakah menerima putusan atau menempuh upaya hukum lanjutan.
Usai pembacaan putusan, sidang dinyatakan selesai dan ditutup.(Rin/Red)
BAUBAU, GAGASSULTRA.COM - Aris Sujadmiko Martono resmi mendaftar sebagai calon Ketua Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kota Baubau. Pendaftaran calon ketua resmi ditutup Senin (15/12/2025) pukul 23.59 WITA
Miko sapaan akrab Sujadmiko, kepada Gagassultra.com mengatakan,dirinya mengakui memilih sebagai pendaftar terakhir untuk melihat sejauh mana peminat sebagai calon partai Hanura Baubau sebagai salah satu partai yang diperhitungkan saat ini
“Partai Hanura di Baubau itu ibarat gadis cantik. Jadi sa memilih menjadi pendaftar terakhir sebelum penutupan,”ungkapnya.
Untuk itu, kata Sujatmiko, keputusannya memilih sebagai pendaftar terakhir melihat sejauh mana peminat Hanura sebagai salah satu parpol yang menjadi perhatian warga Kota Baubau.
“Saya kader tulen Partai Hanura, kepengurusan Partai Hanura saya sekretaris di kepengurusan 2020-2025. Jadi untuk membesarkan partai bukan urusan baru buat saya,”kata Miko usai mendaftar.
Sementara itu, Muh Toufan Akhmad Ketua Panitia Seleksi Penjaringan Calon Ketua DPC Hanura Kota Baubau mengatakan, hingga penutupan pendaftaran mengaku sudah lima resmi mendaftar.
“Hingga penutupan pendaftaran lima orang yang sudah resmi mendaftar. Dan Saya pastikan semua yang mendaftar adalah kader Partai Hanura,”ungkapnya.
Untuk diketahui, hingga penutupan pendaftaran ada lima yang mendaftar diantaranya Noor Gemilang Siradja, Naslia Alu, Hj. Ratna, La Ode Yasin dan Aris Sujadmiko Martono. (Rin/Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM-Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Sulawesi Tenggara (Sultra) sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam rangka milad ke-27, Sabtu (13/12/2025) di KAHMI Center Kendari. Kegiatan milad tahun ini dengan tema “Perempuan Merawat Bumi”.
Koordinator Forhati Sultra, Rahmawati Azi kepada media ini mengatakan, sebagai wujud nyata komitmen kelembagaan terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan perempuan dalam konteks ekologis. Rangkaian kegiatan dibuka dengan Sekolah Ekofeminisme dengan menggandeng Komunitas Handari Perma Kultur Puwatu.
Dikatakan, dalam kegiatan ini para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip ekofeminisme, tetapi juga langsung belajar pendekatan hidup berkelanjutan melalui metode perma culture.
“Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesadaran bahwa perjuangan perempuan tidak hanya terkait pada kesetaraan sosial, tetapi juga pada peran strategis merawat bumi sebagai sumber kehidupan bersama,”ungkapnya.

Belajar di Komunitas Handari Perma Kultur Puwatu
Selanjutnya, peserta mengikuti Pelatihan Pembuatan Kombucha, sebuah praktik fermentasi sehat yang mencerminkan prinsip ketahanan pangan lokal dan kemandirian keluarga.
“Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran akan hubungan manusia dengan mikro-ekosistem yang membantu mendukung kesehatan dan keseimbangan lingkungan,”jelasnya.
Potong Tumpeng, Simbol Syukur dan Harapan Baru
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Pemotongan Tumpeng di KAHMI Center, yang sekaligus menjadi simbol syukur, kebersamaan, dan harapan baru. Momentum ini juga menjadi ruang refleksi untuk membahas peran perempuan sebagai penjaga harmoni ekologis dan sosial dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Rahmawati Azi pada kesempatan tersebut menjelaskan, tema ‘Perempuan Merawat Bumi’ adalah tema yang dipilih bukan hanya karena itu mengena, tetapi karena ini adalah tanggapan terhadap kondisi bangsa yang sedang dilanda berbagai bencana ekologis akibat dari keserakahan tangan-tangan penguasa yang berkolaborasi dengan kapitalisme yang destruktif.
‘Forhati dengan segala keterbatasannya ingin mengambil peran dalam menjaga dan merawat bumi. Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan untuk bertindak secara kolektif dan konkrit.”jelasnya.
Ditambahkan, rangkaian kegiatan ini merupakan langkah awal dari program kerja FORHATI yang akan terus memperluas pendidikan ekofeminis dan jejaring kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dan organisasi lingkungan.
Milad FORHATI 2025 menjadi bukti bahwa perempuan tidak hanya hadir sebagai subjek perubahan, tetapi juga sebagai agen aktif yang mengambil peran kecil namun signifikan untuk cinta lingkungan, keadilan sosial, dan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.(Rin/Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM - Ratusan tim dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) dan akademi se-Sulawesi dijadwalkan akan bertanding dalam Turnamen Usia muda SSB CISC kendari cup 1 yang akan berlangsung mulai Tanggal 16 hingga 21 Desember 2025 di Lapangan Benu-benua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Turnamen tahun ini diprediksi akan mencatat rekor partisipasi yang signifikan. Berdasarkan data panitia ada 154 tim yang terdiri dari kelompok usia U10, U12 dan U14 yang akan berlagan dgn jumlah pertandingan 252 match. Tim-tim ini tidak hanya berasal dari Sulawesi Tenggara, namun juga dari beberapa kota/daerah perwakilan Sulawesi Tengah.
Ketua Panitia, Akbar Djufri mengatakan tercatat ada 154 Tim dari 53 SSB akan berlaga dalam turnamen tersebut dan banyaknya peserta yang datang menunjukan antusiasme yang tinggi dalam pembinaan usia muda.
"Kami sangat bangga melihat lonjakan jumlah peserta untuk turnamen pertama SSB Cisc Kendari CUP 1. Ini adalah bukti bahwa pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia terus berkembang. Tujuan utama kami bukan hanya mencari juara, tetapi juga memberikan wadah kompetisi yang sehat, menumbuhkan fair play, dan tentu saja, menciptakan kegembiraan bagi anak-anak," ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, fokus utama dalam kompetisi ini adalah aspek pembinaan dan pendidikan karakter. Aturan main dirancang sedemikian rupa untuk memastikan setiap anak mendapatkan waktu bermain yang cukup, serta menekankan pentingnya kerja sama tim di atas hasil akhir.
"Tujuannnya adalah sebagai wadah pengembangan usia dini, menjalin persaudaraan antar SSB serta mengembangkan kualitas sepakbola khususnya usia dini," jelasnya.
Ditambahkan pula, turnamen mini soccer ini akan memperebutkan total hadiah sebesar Rp 45 Juta.
"Selain piala dan medali, panitia juga menyiapkan penghargaan individu seperti Top score,best player dan best goal keeper untuk setiap kategori usia, yang diharapkan dapat memotivasi para talenta muda," pungkasnya.
Melalui turnamen ini diharapkan akan lahir bibit-bibit unggul pesepak bola masa depan yang kelak akan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Masyarakat diimbau untuk datang dan memberikan dukungan positif kepada para atlet muda.(Rin/Red)
Catatan : Rahmawati Azi (Koordinator presidium Forhati Sultra dan Dosen Sastra Inggris FIB UHO)
Dalam kerangka ekofeminisme, hubungan antara perempuan dan alam bukan kebetulan, melainkan relasi fundamental. Salah seorang teoris ekofemins, Vandana Shiva berargumen bahwa dominasi terhadap alam dan subordinasi perempuan sering muncul bersamaan, sebagai dua sisi dari logika patriarki-kapitalis yang memisahkan manusia dari ekosistem, memperlakukan alam sebagai komoditas, dan merendahkan kualitas “feminin”, yaitu empati, merawat, menghargai kehidupan dan relasionalitas.
Menurut Shiva, alam dan perempuan sering dianggap “yang lain”, objek yang bisa dikuasai, dieksploitasi, dikontrol. Dalam pandangannya, krisis lingkungan bukan semata soal salah kelola atau kebijakan buruk, tetapi juga akibat mendasar dari sistem nilai patriarkal yang mendefinisikan kekuatan sebagai dominasi, dan nilai sebagai apa yang bisa dieksploitasi atau dinilai dalam mata uang ekonomi.
Karena itu, transformasi ekologi tidak bisa dipisahkan dari transformasi gender dan kultur sebuah “revolusi etika” yang mendobrak dikotomi dominator/domestik, manusia/alam, maskulinitas/feminitas.
FORHATI sebagai organisasi perempuan, tidak hanya memperjuangkan hak perempuan dalam ruang politik, sosial, atau ekonomi, tetapi juga dalam relasi kita dengan bumi, melalui praktik nyata yang menghargai kehidupan, alam, dan komunitas.
Hari ini, tanggal 13 Desember 2025, dalam rangka milad Forhati yg jatuh tanggal 12 Desember kemarin, kami menginisiasi kegiatan ini: belajar permakultur di “Handari Permaculture” dan pelatihan kombucha. Di sini kami sesungguhnya sedang menerjemahkan ekofeminisme ke dalam tindakan kolektif: menolak model pembangunan destruktif , konsumtif yang memisahkan manusia dari alam; serta menegaskan kembali bahwa perempuan, dengan sensitivitas dan daya pedulinya, bisa menjadi penjaga bumi, pelaku perubahan, dan agen restorasi ekologis.
Lewat permakultur, nilai-nilai seperti kerjasama, siklus alam, diversitas hayati, pemeliharaan tanah dan air, serta kearifan lokal dihidupkan kembali , menentang logika monokultur, eksploitasi, dan dominasi. Begitu pula dengan fermentasi kombucha, sebagai upaya ketahanan pangan, kemandirian, dan penghormatan terhadap proses alami, simbol perlawanan terhadap konsumsi massal dan produksi industri seragam.
Dengan landasan ekofeminisme Shiva, aktivitas kecil ini tidak sekadar pragmatis: ia bermakna secara moral, sebagai manifestasi spiritual dari janji peremajaan relasi manusia–alam, pengakuan terhadap nilai “kehidupan” (life), serta kebijakan hidup yang menyatukan cinta terhadap Bumi, solidaritas, dan kesetaraan.
Karenanya, “feminitas FORHATI” bukan hanya tentang suara perempuan dalam wacana sosial, tetapi tentang mengupayakan meski dalam skala paling mikro, kehadiran perempuan sebagai penjaga-penjaga tanah, air, benih, komunitas, dan generasi mendatang. Dengan demikian, mengambil peran kecil dalam mencintai bumi adalah kontribusi politik dan spiritual, sebagai satu langkah kecil dalam pemulihan kualitas hidup bersama manusia dan alam.
Belajar permakultur, membuat Kombucha, merawat bumi dari skala mikro, kami berupaya, meski lagi-lagi belum begitu berarti, untuk ikut melakukan revolusi spiritual: bukan dominasi, bukan ekstraksi, tapi perawatan, hormat, dan solidaritas. Kombucha dan SCOBY-nya tidak hanya menjadi minuman sehat, tapi simbol bahwa bumi, sampai ke tingkat yang paling kecil penuh roh dan penuh kehidupan.
Sambil menyaksikan fermentasi itu, kami belajar satu hal sederhana namun mendalam: mencintai bumi bukan harus soal peran besar dengan modal besar, tapi juga soal memahami kehidupan satu “roh kecil” yang tersembunyi, pada mikro-alam yang sering kita lupakan. Karena kehidupan,besar atau kecil, pantas dihargai. (***)