Super User

Super User

Oleh: Dr. Anidi, S.Ag., M.Si., M.S.I., M.H (Dekan FKIP Unsultra)

Otoritas guru sebagai figur teladan dan figur sentral dalam pendidikan saat ini tengah mengalami erosi signifikan dalam dua dekade terakhir. Zaman dulu guru ditempatkan sebagai sumber ilmu, teladan moral, dan pemegang kendali proses pembelajaran, kini posisi tersebut semakin terdesak oleh perubahan sosial yang cepat. Fenomena ini tidak sekadar menunjukkan penurunan penghormatan terhadap profesi guru, tetapi juga menggambarkan transformasi dalam relasi otoritas antara guru, siswa, dan orang tua dalam ekosistem pendidikan.

Degradasi Perspektif Faktor Sosial

Degradasi otoritas guru semakin terlihat dalam dinamika sosial masyarakat modern. Perubahan nilai sosial yang bergerak menuju budaya egalitarian membuat guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang otomatis dihormati, melainkan harus “membuktikan” otoritasnya di hadapan siswa dan orang tua. Masyarakat yang semakin kritis sering kali menempatkan guru pada posisi rentan: keputusan pedagogis dipertanyakan, tindakan disiplin dipersoalkan, dan kesalahan kecil dapat memicu reaksi berlebihan.

Meningkatnya intervensi orang tua dalam urusan sekolah turut melemahkan posisi guru. Banyak kasus menunjukkan ketika guru menegakkan aturan, sebagian orang tua justru merespons dengan resistensi, bukan kolaborasi. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan relasi, di mana guru kehilangan ruang untuk membimbing secara tegas dan profesional. Pada akhirnya, degradasi otoritas ini tidak hanya merugikan guru, tetapi juga mengganggu proses pendidikan yang semestinya berjalan berdasarkan kepercayaan dan penghormatan terhadap kompetensi guru sebagai pengajar dan pendidik.

Perubahan nilai di masyarakat telah mempengaruhi persepsi terhadap guru. Era global membawa pergeseran dari budaya hormat pada figur otoritatif menuju budaya egalitarian, dimana otoritas tidak lagi diterima secara otomatis, melainkan harus dibangun melalui kompetensi dan kedekatan emosional. Masyarakat yang semakin kritis turut membentuk pola interaksi baru, di mana siswa dan orang tua merasa memiliki ruang untuk mempertanyakan metode, keputusan, bahkan kebijakan guru. Ketika masalah muncul, guru tidak jarang menjadi pihak yang disalahkan terlebih dahulu, menandai berkurangnya legitimasi sosial mereka sebagai guru.

Dampak Media Digital terhadap Wibawa Pendidik

Media digital telah menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat degradasi otoritas guru dalam beberapa tahun terakhir. Akses informasi tanpa batas, peserta didik kini memperoleh pengetahuan dari berbagai platform seperti YouTube, TikTok, atau Instagram, yang sering kali lebih menarik daripada pembelajaran di kelas. Kondisi ini membuat guru tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber ilmu, sehingga wibawa akademis guru mengalami pengurangan secara perlahan.

Media sosial menciptakan ruang publik yang sering kali tidak ramah bagi guru. Kesalahpahaman kecil di kelas dapat direkam dan disebarluaskan tanpa konteks, menghasilkan stigma negatif yang mempengaruhi citra profesional guru. Fenomena viral culture menjadikan guru mudah dihakimi oleh opini publik sebelum klarifikasi diberikan. Hal ini menempatkan guru pada situasi psikologis yang tidak aman.

Penggunaan media digital oleh siswa dapat membentuk pola interaksi baru yang cenderung kurang menghargai batas otoritas. Konten hiburan yang mendominasi ruang digital mempengaruhi cara siswa menilai otoritas: mereka lebih menghormati figur viral daripada figur akademis. Akibatnya, guru harus berjuang lebih keras untuk membangun kepercayaan dan otoritas di kelas. Memulihkan wibawa guru memerlukan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan negara untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih adil dan mendidik bukan ruang yang menjatuhkan martabat pendidik.

Pengaruh Pola Asuh Modern

Pola asuh modern yang cenderung permisif menjadi salah satu faktor yang berkontribusi besar terhadap degradasi otoritas guru. Banyak orang tua kini menempatkan anak sebagai pusat perhatian dan keputusan keluarga, sehingga kritik atau disiplin dari guru sering dianggap sebagai ancaman, bukan bagian dari proses pendidikan. Akibatnya, ketika terjadi masalah di sekolah, sebagian orang tua langsung membela anak tanpa menelusuri fakta, membuat guru kehilangan dukungan moral yang seharusnya menjadi fondasi kerja sama pendidikan.

Fenomena over parenting juga membuat anak (peserta didik) kurang terbiasa menghadapi aturan dan konsekuensi. Ketika guru mencoba menegakkan disiplin, respons siswa seringkali berupa penolakan, sementara orang tua justru memperkuat resistensi tersebut. Kondisi ini menempatkan guru pada posisi dilematis: menjalankan tugas profesional berisiko konflik, tetapi membiarkan pelanggaran berarti mengabaikan tanggung jawab mendidik.

Pola asuh modern yang tidak diimbangi dengan pemahaman tentang pentingnya otoritas guru, sekolah akan kesulitan menciptakan lingkungan belajar yang bermakna. Kepercayaan orang tua terhadap guru bukan hanya dukungan interpersonal, tetapi prasyarat penting bagi keberhasilan Pendidikan.

Degradasi otoritas guru jelas berdampak pada kualitas pendidikan. Ketika guru kehilangan ruang untuk mengajar dengan tegas dan mendidik dengan penuh wibawa, proses belajar akan kehilangan arah. Otoritas bukan soal kekuasaan, melainkan tentang legitimasi moral dan profesional untuk membimbing peserta didik. Tanpa otoritas, guru hanya menjadi fasilitator administratif, bukan pendidik sejati.(***)

BAUBAU,GAGASSULTRA.COM- Puluhan rumah di Kota Baubau porak-poranda diterjang angin puting beliung, Rabu (03/12/2025). Akibatnya, penghuni perumahan yang berlokasi di Kelurahan Sulaa, Kota Baubau tersebut panik dan keluar rumah untuk mengenakan diri. 

Detik-detik angin puting beliung tersebut sempat terekam video amatir warga. Terlihat atap-atap rumah warga melayang di udara dan berhamburan di sekitar pemukiman. Meski kejadiannya tidak begitu lama namun membuat rumah warga rusak dan membuat panik. 

Menurut kesaksian salah seorang warga AL, saat kejadian dirinya masih berada di rumah. Namun, tiba-tiba terdengar gemuruh angin kencang di atas rumahnya. Karena panik dirinya langsung keluar rumah dan sudah melihat kondisi atap rumahnya dan tetangganya sudah rusak. 

“Awalnya pagi aman-aman saja, tapi tiba tiba datang angin kencang dan bergemuruh. Karena panik saya langsung keluar rumah dan melihat kondisi atap rumah dan seperti ini (rusak-red),”jelasnya.

Dikatakan, dari perhitungan bersama warga lainnya, rumah yang terkena puting beliung sekitar 20 rumah. Dan kerusakannya atap rumah dan kanopi teras depan.

“Ada yang atap rumahnya hilang semua, ada yang sebagian copot. Termasuk kanopi teras rumah hilang. Sedangkan untuk korban jiwa tidak ada,”bebernya.

Sementara itu, petugas Damkar Kota Baubau yang mendapat laporan langsung bergerak cepat untuk membantu warga. Ditambah lagi dengan personil aparat Polres Baubau bersama-sama warga untuk mengevakuasi barang-barang warga. 

Selain itu, terjangan puting beliung juga merusak dan memutuskan sejumlah kabel listrik. Akibat, kerusakan rumah ini sejumlah warga untuk sementara mengungsi di rumah keluarga. 

Warga yang terdampak juga berharap bantuan tanggap darurat dari Pemerintah Kota Baubau untuk membantu meringankan beban akibat kerusakan tersebut. (Rin/Red) 

 

 

 

 

KENDARI,GAGASSULTRA.COM-Korps Alumni HMI-Wati (Forhati) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengambil bagian dalam peringatan Hari Guru 25 November 2025 dengan menggelar Webinar pendidikan, minggu (30/11/2025). 

Webinar spesial hari Guru mengangkat tema “Peran AI sebagai Asisten Guru dan Dosen: Menjadi Pengajar yang Tak Tergantikan oleh Mesin.”

Kordinator Forhati Sultra, Rahmawati Azi, S.Pd, M.A dalam sambutannya mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi menciptakan “kelas terjajah”, sebagaimana diingatkan Bagus Muljadi, harus menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan Indonesia, terutama ketika arah Kurikulum Merdeka justru semakin menekankan fleksibilitas dan orientasi pasar tanpa penguatan yang memadai terhadap kemampuan analisis kritis dan literasi digital.

“Jika pendidikan tinggi gagal membekali generasi muda dengan daya nalar, kemampuan bertanya, serta kesadaran etis dalam penggunaan teknologi, maka risiko pemroletaran intelektual dan ketergantungan buta pada mesin dapat memperlebar ketimpangan sosial,”jelasnya.

Untuk itu, kata Rahma, Forhati menyerukan perlunya penguatan kurikulum berbasis riset, humaniora, dan literasi AI agar perguruan tinggi tetap menjadi ruang pembebasan intelektual dan bukan pabrik tenaga kerja yang rentan terjajah oleh algoritma.

“Yuk belajar bersama bagaimana memanfaatkan AI sebagai asisten pendidik, tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dalam mengajar,”ajaknya.

Dalam Webinar tersebut menghadirkan narasumber Dr. Hj. Irma Irayanti., M.Pd dengan materi Humanizing Education dan Rahmaniar Azi, S.Sos., M.Pd dengan materi ‘Menjadi Pendidik Sejati, Mendidik Sesuai Fitra Manusia’. Sedangkan, Wa Ode Rulia, SP., M.Sos sebagai moderator. 

Sementara itu, peserta Webinar berasal berbagai kalangan pendidikan mulai dari dosen, guru dan anggota Forhati Sultra. (Rin/Red). 

 

 

 

KENDARI,GAGASSULTRA.COM-Korps Alumni HMI-Wati (Forhati) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengambil bagian dalam peringatan Hari Guru 25 November 2025 dengan menggelar Webinar pendidikan, minggu (30/11/2025). 

Webinar spesial hari Guru mengangkat tema “Peran AI sebagai Asisten Guru dan Dosen: Menjadi Pengajar yang Tak Tergantikan oleh Mesin.”

Kordinator Forhati Sultra, Rahmawati Azi, S.Pd, M.A dalam sambutannya mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi menciptakan “kelas terjajah”, sebagaimana diingatkan Bagus Muljadi, harus menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan Indonesia, terutama ketika arah Kurikulum Merdeka justru semakin menekankan fleksibilitas dan orientasi pasar tanpa penguatan yang memadai terhadap kemampuan analisis kritis dan literasi digital.

“Jika pendidikan tinggi gagal membekali generasi muda dengan daya nalar, kemampuan bertanya, serta kesadaran etis dalam penggunaan teknologi, maka risiko pemroletaran intelektual dan ketergantungan buta pada mesin dapat memperlebar ketimpangan sosial,”jelasnya.

Untuk itu, kata Rahma, Forhati menyerukan perlunya penguatan kurikulum berbasis riset, humaniora, dan literasi AI agar perguruan tinggi tetap menjadi ruang pembebasan intelektual dan bukan pabrik tenaga kerja yang rentan terjajah oleh algoritma.

“Yuk belajar bersama bagaimana memanfaatkan AI sebagai asisten pendidik, tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dalam mengajar,”ajaknya.

Dalam Webinar tersebut menghadirkan narasumber Dr. Hj. Irma Irayanti., M.Pd dengan materi Humanizing Education dan Rahmaniar Azi, S.Sos., M.Pd dengan materi ‘Menjadi Pendidik Sejati, Mendidik Sesuai Fitra Manusia’. Sedangkan, Wa Ode Rulia, SP., M.Sos sebagai moderator. 

Sementara itu, peserta Webinar berasal berbagai kalangan pendidikan mulai dari dosen, guru dan anggota Forhati Sultra. (Rin/Red). 

 

 

 

KENDARI,GAGASSULTRA.COM - Kota Baubau mengirimkan 36 kontingen untuk berlaga pada Turnamen Domino Celebes Cup I yang digelar di Kota Kendari. Utusan Baubau terdiri dari 18 pasangan, yakni 17 pasangan kategori reguler dan 1 pasangan kategori eksekutif.

Plt. Ketua Persatuan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) Kota Baubau, Toni Kongres, mengatakan seluruh kontingen telah tiba di Kendari dan siap bertanding sesuai jadwal pertandingan yang berlangsung sejak 28 November 2025. 

“Kami membawa total 36 atlet, dan semuanya sudah dipersiapkan untuk tampil maksimal. Kehadiran Baubau di turnamen ini bukan sekadar ikut serta, tapi kami menargetkan hasil terbaik,” ungkap Toni.

Turnamen Nasional Celebes Cup I tahun ini menjadi sorotan karena memperebutkan total hadiah mencapai Rp 500 juta, menjadikannya salah satu ajang domino terbesar dan paling bergengsi di kawasan Sulawesi.

Menurut Toni, antusiasme para pemain sangat tinggi menghadapi kompetisi berskala besar tersebut.

"Ini kesempatan berharga bagi atlet-atlet domino kita untuk mengukur kemampuan sekaligus menambah pengalaman,” ujarnya. 

Ia berharap dukungan masyarakat Baubau dapat menambah motivasi para pemain.

“Mohon doa masyarakat Baubau. Semoga kontingen kita bisa menunjukkan permainan terbaik dan mengharumkan nama Kota Baubau” tambahnya.

Turnamen Domino Celebes Cup I diikuti peserta dari berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara dan dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari ke depan. (Rin/Red) 

 

BAUBAU,GAGASSULTRA.COM - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Baubau resmi menelorkan Dokter Hasrida Hamid sebagai nahkoda baru masa bakti 2025-2028, melalui musyawarah cabang IDI Baubau yang digelar, sabtu (22/11/2025). 

Pasca terpilih, Dr. Ida sapaan akrabnya menyatakan siap menghidupkan kembali marwah organisasi profesi kedokteran yang selaras dengan kebutuhan, tantangan zaman, dan keinginan para dokter yg bernaung di rumah besar IDI cabang Baubau. 

Dalam visinya dengan mengusung gagasan "IDI BERDAMPAK" (Bersinergi, Empatik, Responsif, Disiplin, Amanah, Profesional, Akuntabel, dan Kolaboratif). IDI Baubau ke depan mesti lebih dirasakan peran dan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, dia mengusung visi untuk mewujudkan IDI Kota Baubau yang solid dalam silaturahmi, tertib dalam administrasi, kuat dalam pengabdian, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Saya siap mengemban dan mewakafkan dirinya untuk merangkul semua pihak dan memajukan IDI cabang Baubau,”tegasnya.

Pada kesempatan tersebut juga, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Ketua dan rekan-rekan Pengurus IDI Baubau sebelumnya, yang telah meninggalkan legasi baik, untuk kemudian diteruskan serta dikembangkan kedepannya.

“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rekan-rekan, keluarga besar IDI Baubau, yang sudah memberikan kepercayaan. Insya Allah amanah ini akan saya jalankan dengan penuh rasa tanggung jawab dan totalitas. Mengedepankan kebersamaan, kesetaraan, dan kebaruan,” ungkapnya. 

Untuk diketahui, dalam kepengurusan IDI Cabang Baubau nama Dokter Hasrida Hamid bukanlah nama yang asing. Bahkan, dalam kepengurusan IDI Cabang Baubau menjabat posisi strategis sebagai Sekretaris periode 2012-2015 dan periode 2015-2019. Sedangkan pada periode 2019-2023 dipercaya sebagai Wakil Ketua sekaligus Ketua Bidang Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB). 

Lebih lanjut dikatakan, bersama Kepengurusan yang baru nantinya akan mengakomodir berbagai keinginan dan kebutuhan anggota IDI. Baik dalam keseharian internal organisasi, maupun dalam hal pelayanan kesehatan publik di tempat kerja masing-masing.

Selain  itu, harmonisasi dengan berbagai macam pihak yang merupakan mitra kerja strategis, misal Pemkot Baubau, BPJS, Kemenkes, organisasi profesi tenaga kesehatan lain, PMI, HIPMI, KADIN, BUMN, Perguruan tinggi, NGO, organisasi sosial, serta stakeholders lain sama-sama tumbuh dan tidak bisa kita abaikan karena sama-sama bernaung di kota Baubau. 

“Ibarat saudara ataupun kerabat yang tinggal serumah dengan kita masa iya kita tidak ajak ngobrol dan sama-sama bicara, untuk bersama merawat rumah tempat kita tinggal dan bernaung,”imbuhnya.

Untuk itu, dengan pengalaman yang dimilikinya, dengan penuh integritas dan dedikasi yang tinggi tentunya IDI Cabang Baubau mampu mengambil peran strategis untuk mendukung pembangunan Kota Baubau kedepan. (Rin/Red) 

 

 

 

 

 

 

KENDARI,GAGASSULTRA.COM - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pengalaman akademik berwawasan global bagi mahasiswa melalui kegiatan Kuliah Tamu internasional, Sabtu (22/11/ 2025). 

Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Lona Marcos Yaco, Ph.D, Education Program Specialist dari Department of Education, Benguet, Philippines, dengan tema “Perspektif Gender dan Pengembangannya di Cordillera Philippines.”

Dekan FKIP Unsultra, Dr. Anidi, M.Si., M.S.I., M.H., pada kesempatan tersebut mengatakan, kerja sama akademik lintas negara menjadi bagian penting dalam memperkaya wawasan mahasiswa, khususnya dalam isu-isu kontemporer seperti kesetaraan gender dan pengembangan pendidikan masyarakat adat.

“Kegiatan kuliah tamu ini bukan hanya memperluas cakrawala mahasiswa, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana isu gender dikembangkan dan diintegrasikan dalam sistem pendidikan di berbagai belahan dunia. Pengalaman yang dibagikan oleh Dr. Lona Marcos Yaco memberikan perspektif baru bagi mahasiswa dalam melihat praktik pendidikan di wilayah Cordillera, Filipina,” ujar Dr. Anidi.

Lebih lanjut dikatakan, tema yang diangkat sangat relevan dengan dinamika global, terutama dalam pembangunan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat memperkuat jejaring internasional FKIP serta mendorong penelitian kolaboratif terkait gender dan pendidikan masyarakat adat.

“Kami berharap kolaborasi antara FKIP Unsultra dan Department of Education Benguet terus berlanjut dalam berbagai bentuk, baik penelitian, pertukaran akademik, maupun program bersama lainnya. Mahasiswa harus mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kesempatan seperti ini guna memperkuat kompetensi mereka sebagai calon pendidik profesional,” tambahnya.

Kegiatan kuliah tamu ini diikuti oleh mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) di FKIP Unsultra. Antusiasme peserta tampak dari sesi diskusi yang berlangsung aktif, khususnya terkait bagaimana pendekatan pendidikan berbasis gender diterapkan di wilayah pegunungan Cordillera yang memiliki keragaman budaya.

Melalui kegiatan ini, FKIP Unsultra menunjukkan langkah strategisnya dalam membawa perspektif internasional ke lingkungan kampus, sekaligus memperkuat komitmen terhadap pendidikan yang responsif terhadap isu gender dan keberagaman budaya.(Rin/Red) 

 

KENDARI,GAGASSULTRA.COM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) kembali menunjukkan komitmennya dalam menguatkan internasionalisasi kampus melalui penyelenggaraan Visiting Lecturer bertema “Reflective Practice & Coaching: A Practical Path To Continuous Teacher Growth.”

 Kegiatan ini menghadirkan narasumber internasional, Dr. Alesa Durgaryan (PhD, Armenian State Pedagogical University, Armenia), Kamis, (20/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung RKB Unsultra ini turut dihadiri oleh Wakil Dekan FKIP, Arna Juwairiah, S.Pd., M.Pd, Kaprodi PGSD, Chairan Zibar L. Parisu, S.Pd., M.Pd, Kaprodi PGPAUD, Rosnawati, S.Pd., M.Pd, dan para dosen dari seluruh program studi FKIP Unsultra serta Mahasiswa FKIP Unsultra. 

Dekan FKIP Unsultra, Dr. Anidi, M.Si., M.S.I., M.H, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kegiatan Visiting Lecturer ini merupakan bagian dari strategi fakultas untuk memperluas jejaring akademik internasional dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Menghadirkan narasumber dari Armenia merupakan wujud keseriusan kami dalam mendorong FKIP Unsultra menuju level internasional. Ini sejalan dengan semangat dan tagline Rektor Unsultra, Prof. Dr. H. Andi Bahrun, M.Sc., Agric., yaitu: Unsultra in Global Action,”tegas Dr. Anidi.

Ditambabkan, penguatan wawasan internasional sangat penting bagi dosen dan calon tenaga pendidik dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang semakin kompleks.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa para calon guru memiliki perspektif global dan memahami praktik-praktik pendidikan yang berkembang di berbagai negara. Reflective practice dan coaching adalah pendekatan yang sangat relevan untuk peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan,” lanjutnya.

Sebagai narasumber, Dr. Alesa Durgaryan memaparkan pentingnya praktik reflektif dan coaching dalam membangun profesionalisme guru. Ia menjelaskan bahwa guru masa kini dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu mengevaluasi proses mengajarnya secara mandiri dan kolaboratif.

Dalam sesi presentasinya, Dr. Alesa mengajak peserta untuk memahami peran refleksi sebagai alat untuk memperbaiki strategi pembelajaran, serta bagaimana coaching dapat menjadi pendampingan efektif bagi guru untuk mencapai perkembangan profesional yang berkelanjutan.

Wakil Dekan FKIP, Arna Juwairiah, S.Pd., M.Pd., menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini dan menilai bahwa kolaborasi internasional seperti ini sangat bermanfaat.

“Kehadiran narasumber dari Armenia memberi inspirasi baru bagi dosen dan mahasiswa. Ini langkah yang sangat strategis untuk memperkuat kualitas akademik FKIP Unsultra,” ujarnya.

Kaprodi PGSD dan Kaprodi PGPAUD juga menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini, yang menurut mereka mampu memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktik pendidikan global serta memberikan pengalaman belajar yang lebih variatif.

Melalui kegiatan Visiting Lecturer ini, FKIP Unsultra menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan akademik berskala internasional guna mewujudkan perguruan tinggi yang berdaya saing global sesuai visi “Unsultra in Global Action.”(Rin/Red) 

 

KUDUS,GAGASSULTRA.COM - Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Ady Aksar hadir langsung di arena Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela diri II di Kudus Provinsi Jawa Tengah, sabtu (18/10/2025).

Kehadiran AAA sapaan akrab Ketum Koni Sultra ini, terus menyulut api semangat para atlet yang berjuang mengharumkan Bumi Anoa di arena PON Bela Diri II di Kudus, Jawa Tengah.

Sebagai nahkoda KONI Sultra tidak hanya memotivasi 52 atlet dari 8 cabang olahraga namun turut menyaksikan perjuangan mereka di GOR Djarum Foundation Kudus, Jawa Tengah.

Panitia penyelenggara menyiapkan tempat duduk VVIP bagi jajaran Ketua Umum KONI se-Indonesia. Demikian pula dengan para Ketua Pengprov Cabang Olahraga yang hadir di lokasi pertandingan.

Namun, Ketua KONI Sultra memilih duduk bersama atletnya di tribun penonton. Sama halnya dengan Ketua Pengprov IPSI Sultra Dessy Indah Rachmat berbaur dengan para pendekar dan srikandi binaannya.

"Kalian (para atlet dan pelatih) berlatih keras dan berjuang meraih kemenangan demi kemenangan di arena PON Bela Diri demi diri sendiri, kebanggaan keluarga dan mengharumkan nama daerah kita," kata Andi memotivasi para atlet.

Dari gelanggang pertandingan cabang olahraga yang satu ke gelanggang cabang olahraga berikutnya disisir oleh Ketua KONI Andi yang juga Ketua DPD Gerindra Sultra berinteraksi dengan para atlet dan pelatih.

"Anak-anakku para atlet main lepas. Jangan terbebani. Semangat membara menghadapi lawan dibutuhkan tetapi harus mampu mengendalikan emosi," tutur Andi didampingi pimpinan kont PON Bela Diri Sultra Richard Ricardo official lainnya.

Untuk diketahui, Kontingen PON Bela Diri II Sultra 2025 diperkuat delapan cabang olahraga, yakni Kempo (11 orang), Sambo (8 orang), Tarung Derajat (3 orang), Taekwondo (6 orang), Karate (5 orang), Pencak Silat (10 orang), Wusu (4 orang) dan Gulat (5 orang).

Kontingen Sultra telah mengoleksi 1 medali Perak dan 2 medali Perunggu yang disumbangkan Cabang Olahraga Taekwondo.(Rin/red)

 

BAUBAU,GAGASSULTRA.COM-Balai Pemasyarakatan ( Bapas) Kelas II Baubau, bersama klien pemasyarakatan bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menggelar aksi sosial pembersihan Taman Makam Pahlawan Oputa Yii Koo melalui kegiatan Klien Bapas Peduli, Kamis (06/11/2025).

Kepala Bapas Kelas II Baubau, Nasrudin dalam sambutannya mengatakan, jika dalam kegiatan aksi pembersihan taman makam pahlawan lawan ini, terdapatnya tiga tujuan pelaksanaannya yakni, dalam rangka menyongsong hari pahlawan yang akan diperingati pada tanggal 10 November nanti.

" Tujuan kedua yaitu kegiatan ini melibatkan 25 klien pemasyarakatan yang merupakan warga binaan alumni Lapas Baubau dan Rutan Raha yang memperoleh pembebasan bersyarat dan cuti bersyarat, sebagai salah satu program untuk membina kepribadian tidak melakukan tindak pidana lagi, kesadaran berbangsa dan bernegara olehnya itu kami libatkan untuk melakukan kegiatan sosial," terangnya.

Dikatakan, aksi sosial ini juga merupakan simulasi hukum Pidana baru yang rencana akan diberlakukan pada Januari 2026 nantinya. Pada hukum pidana yang baru, hakim dapat memutuskan seorang terpidana yang hukumannya dibawah 6 bulan tidak perlu dikirim ke Lapas, tetapi melakukan pekerjaan - pekerjaan yang bermanfaat untuk masyarakat.

" Prakteknya mereka bisa melakukan pembersihan di taman makam, membersihkan rumah ibadah, menjadi petugas keamanan di Puskesmas, atau bisa menjadi bentuk-bentuk lain sesuai dengan profesi klien pemasyarakatan dan ini dilaksanakan secara cuma - cuma," terangnya.

Lanjut Nasrudin, melalui kegiatan aksi sosial ini juga pihaknya ingin menunjukan kepada masyarakat, bahwa seseorang yang pernah melakukan kesalahan dimasa lalunya bisa berubah dan bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Untuk diketahui dalam kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Baubau, Dinas Sosial Kota Baubau, Kecamatan Wolio, Kelurahan Kadolokatapi, serta tokoh masyarakat.(Tio/Red)

Pencarian